Pesantren city

alam yang indah akan tercipta dengan hati yang suci

"Man From the South" by Roald Dahl (1916-1990)


1. Character
  1. I
  • Physical Appearance
He like sit in a deck chair by the swimming pool and have a little evening sun. he like quiet and drink of beer.
  • Characteristic
  • He dislike about bet “I’ll come along, but I don’t like the bet.”
  • He Think that bet is crazy.
  • He like to remind to the boy “Don’t you think this is rather a silly bet?”
  1. Little man (Carlos)
  • Physical Appearance
He is a small oldish man and He was immaculately dressed in a white suit and he walked very quickly with little bouncing strides, pushing himself high up onto his toes with each step. He had on a large creamy Panama hat and his age Probably around sixty-eight or seventy and He from South American. He is having two rows of very small, uneven teeth, slightly tarnished.
  • Characteristic
  • He is respectful (“Excuse pleess, but may I sit here?”)
  • He like crazy bet because He was addicted bet.
  • He angered about something.
  1. English girl
  • Physical Appearance
A large-boned, fair-haired girl wearing a pale blue bathing suit.
  • Characteristic
  • She dislike about bet (“Nor do I,” said the English girl.  It was the first time she’d spoken.  “I think it’s a stupid, ridiculous bet.”)
  • She congenial to the boy (“I think it’s a stupid, ridiculous bet,” the girl said.  “What’ll happen if you lose?”).
  1. the boy
  • Physical Appearance
He with long freckled face and the pointed nose, bare-bodied except for a pair of faded brown bathing shorts and his body is wet after swimming.
  • Characteristic
  • He is belief in the crazy bet.
  • He like challenge (“Sure, I’ll bet,” the boy said.  “Why not?”)
  • He always taking easy about it.
  1. A woman
  • Physical Appearance
A small, black-haired woman, rather old.
  • Characteristic
  • She is very protective to carlos.
  • She an awfully nice woman.
  1. Setting
  • Hotel
  • Pond
  • Build
  1. Plot
  • Beginning
It was getting on toward six o’clock so I thought I’d buy myself a beer and go out and sit in a deck chair by the swimming pool and have a little evening sun. It starts outside a hotel, under a yellow umbrella by the swimming pool. Me and the little man watching Americans cadets and English girls in the swimming pool. The young boy and an English girl came up to the little man and me and sat down at the same table. The young boy offers a smoke to everyone. When he's going to light the smoke between his lips, the little man says: "That will not work in this wind." "Sure it'll work. It always works" the cadet answers. The little man starts discussing with the cadet and offers a bet, the bet I about the lighter successfully lights 10 times I a raw,without failing one single time.
  • Climax
He will get a Cadillac if he makes the bet. If the lighter wont light, he must scarify one of the little finger. The young boy is “in” and they goes up to the hotel room to do the bet.As soon as the little man gets the equipment he needs to hold his hand, he starts to prepare the bet. The cadet has to have his hand on a table, so the little man can take his finger as soon as the lighter fails to light.
  • End
When they were in the middle of the bet, a woman came in and interrupted, probably the wife of the little man. She told the young boys that the little man is mentally disturbed, in the last years he has chopped of more than 47 fingers from different people. They can’t go through with the bet because he doesn’t have anything to bet. The car doesn’t belong to the little man, it belong to the woman.
  1. Point of view
Third person
  • Omniscient
I know in this about all the story, from start until the end.




Khotmil Qur'an

Kegiatan Pramuka UIN MALIKI MALANG bukan hanya sebatas membahas tentang apa itu Pramuka dan sebagainya, akan tetapi mereka juga mengadakan khotmil Qur’an yang mana semua anggota racana membaca al-Qur’an secara bergantian dan masing-masing dari mereka telah diberi jatah satu juz untuk mempercepat jalanya acara tersebut, 

karena acara Khotmil Qur’an tersebut hanya diselenggarakan dalam satu hari saja.

Pada sore harinya khotmil Qur’an ditutup oleh acara tahlil yang di pimpin langsung oleh salah satu anggota racana yang telah berpengalaman untuk memimpin jalannya tahlil.


Acara tersebut berjalan dengan lancar dan tanpa ada halangan yang berarti sehingga acara dilanjutkan oleh pengenalan Pembina dan pengenalan program kerja dewan racana selama satu periode kedepan.
Dan acara tersebut ditutup dengan acara potong tumpeng yang diwakili oleh kak mulyadi.

Ekspedisi Panderman



Ekspedisi Tamu Racana Pramuka UIN MALIKI MALANG pada tahun ini adalah ekspedisi yang beda dari ekspedisi yang dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya, Pada tahun sebelumnya ekspedisi tamu racana hanya dilaksankan di kebun teh yang terletak di kawasan singosari dan sekitarnya, maka ekspedisi tahun 2012 kali ini dilaksanakan di puncak Gunung Panderman yan
g ketinggiannya 2000M DPL (dari permukaan laut).


Dalam ekspedisi ini di bagi dalam dua tahap atau dua kelompok dari tamu Racana angkatan 24, karena banyaknya tamu racana yang belum bisa kembali untuk aktifitas di kampus dan benyak dari mereka yang tempat tinggalnya di luar kota Malang. 


Mungkin bagi pemula, pendakian tersebut masih terasa berat dan cukup menguras tenaga, pendakian ini mungkin pertama kalinya yang dirasakan oleh sebagian besar dari mereka, sehingga pendakian tersebut sering sekali beristirahat dan sesekali minum untuk menyegarka tenggorokan.
Disinilah tamu racana diuji dalam mengontrol emosinya, ada yang bisa mengontrol emosinya dan tidak sedikit pula yang bisa mengontrol emosinya. Sehingga anggota yang tidak bisa mengontrol seringkali menghiraukan temannya yang sudah kelelahan dan hanya memikirkan dirinya sendiri, bagi anggota yang bisa mengontrol emosinya mereka cenderung memikirkan temannya yang membutuhkan pertolongannya dan dengan senang hati untuk menunggu teman yang kelelahan.




Pramuka UIN MALIKI MALNG ( new year 2012)

Merayakan tahun baru Masehi adalah hal yang lumrah dirayaahun kan bagi Masyarakat Dunia, banyak sekali dari mereka begadang sampai tengah malam dan ada juga yang sampai pagi, itu dilakukan semata-mata hanya untuk melihat pergantian tahun baru Masehi.
Mereka menyambut tahun baru tidak hanya begadang dan terdiam menunggu pergantian tahun tetapi kebanyakan dari mereka merayakan dengan menyalakan kembang api dan meniup terompet sehingga Susana pergantian tahun sangat meriah dan sangat menarik untuk dirayakan.
Bagi anak Pramuka, tahun baru adalah hal yang menarik untuk di rayakan dengan anggota Pramuka lainya. Apalagi bagi anak Pramuka yang cinta petualang, mereka kebanyakan merayakan di atas gunung dan juga merayakannya di atas dataran tinggi untuk menyaksikan kemerlap indahnya suasana kota dan menanti pergantian tahun untuk menyaksikan indahnya kembang api saat dinyalakan.


Hampir setiap tahun anggota Pramuka UIN MALIKI MALANG merayakan pergantian tahun baru 2012 dengan pergi ke Alam terbuka seperti halnya pada pergantian tahun ke-2012, mereka pergi ke Paralayang yang bertempatkan di KOTA BATU. Pemandangan disana tidak kalah menarik dengan pemandangan dari Gunung-gunung lainnya yang ada di kota Malang Raya.
Para Anggota Pramuka UIN MALIKI MALANG sangat antusias untuk merayakan tahun baru 2012 di dataran tinggi paralayang tersebut, mereka rela tidak pulang kampung hanya karena kebersamaan mereka dengan para anggota Racana lainnya.


\Di tempat Paralayang kita bisa menyaksikan keindahan Pegunungan Putri tidur dan kita juga bisa menyaksikan keindahan Gunung Panderman.

Pramuka UIN MALIKI MALANG (Rektor Sambangi Ke Ambon)



REKTOR UIN MALIKI MALANG yaitu Prof. Dr. H. Imam Suprayugo telah mengunjungi Perkemahan Wirakarya X (PW X) yaitu prekumpulan PERGURUAN TINGGI ISLAM SI-INDONESIA yang diadakan pada 20 Nopember 2011 di IAIN AMBON.

Prof. Dr. H. Imam Suprayugo yang lebih sering di sapa Pak Imam Suprayugo, telah meluangkan waktunya untuk menjenguk anak UKMnya yang sedang berjuang di IAIN AMBON. Beliau telah senang hati mengikuti pembukaan Perkemahan Wirakarya X (PW X) sampai selesai.


Pak Imam Suprayugo adalah Rektor pertama UIN MALIKI MALANG yang rela mengorbankan waktunya untuk  Menghadiri Perkemahan Wirakarya yang telah diselenggarakan selama ini, beliau selain meluangkan waktu untuk Pramuka UIN MALIKI MALANG juga meluangkan tenaganya untuk melihat Tenda kontingen Pramuka UIN MALIKI MALANG di atas gunung yang berjarak ±1km dengan lintasan yang sangat menantang atau naik turun bukit.


Disanapun beliau menyempatkan untuk minum segelas teh hangat yang di buatkan khusus untuk menyambut kedatangan beliau.


Dan beliau juga menyempatkan untuk berbinacang-bincang dengan kontingen lain dari beberapa daerah.

Malin kundang and Summary of Malin kundang


Narrative Text

The telling of a story or an account of a sequence of events. One of the four traditional forms of composition (along with description, exposition, and persuasion). Narration differs from exposition, which can also relate a sequence of events, in that narration need not be factual and may be written from the perspective of a character in the text.
Characters are distinctive personalities who are involved in the events described by the story. Primary characters are the heroes of the story whose actions determine the plot of the story. Secondary characters have supporting roles to provide the main characters with information, material goods, services or whatever is needed in order to advance the plot.

The Myth of Malin Kundang

             A long time ago, in a small village near the beach in West Sumatra, a woman and her son lived. They were Malin Kundang and her mother. Her mother was a single parent because Malin Kundang's father had passed away when he was a baby. Malin Kundang had to live hard with his mother.
             Malin Kundang was a healthy, dilligent, and strong boy. He usually went to sea to catch fish. After getting fish he would bring it to his mother, or sold the caught fish in the town.
            One day, when Malin Kundang was sailing, he saw a merchant's ship which was being raided by a small band of pirates. He helped the merchant. With his brave and power, Malin Kundang defeated the pirates. The merchant was so happy and thanked to him. In return the merchant asked Malin Kundang to sail with him. To get a better life, Malin Kundang agreed. He left his mother alone.
            Many years later, Malin Kundang became wealthy. He had a huge ship and was helped by many ship crews loading trading goods. Perfectly he had a beautiful wife too. When he was sailing his trading journey, his ship landed on a beach near a small village. The villagers recognized him. The news ran fast in the town; “Malin Kundang has become rich and now he is here”.
           An old woman ran to the beach to meet the new rich merchant. She was Malin Kundang’s mother. She wanted to hug him, released her sadness of being lonely after so long time. Unfortunately, when the mother came, Malin Kundang who was in front of his well dressed wife and his ship crews denied meeting that old lonely woman. For three times her mother begged Malin Kundang and for three times he yelled at her. At last Malin Kundang said to her "Enough, old woman! I have never had a mother like you, a dirty and ugly woman!" After that he ordered his crews to set sail. He would leave the old mother again but in that time she was full of both sadness and angriness.
         Finally, enraged, she cursed Malin Kundang that he would turn into a stone if he didn't apologize. Malin Kundang just laughed and really set sail.
In the quiet sea, suddenly a thunderstorm came. His huge ship was wrecked and it was too late for Malin Kundang to apologize. He was thrown by the wave out of his ship. He fell on a small island. It was really too late for him to avoid his curse. Suddenly, he turned into a stone.

              One day, when Malin Kundang was sailing, he saw a merchant's ship which was being raided by a small band of pirates. He helped the merchant. With his brave and power, Malin Kundang defeated the pirates. The merchant was so happy and thanked to him. In return the merchant asked Malin Kundang to sail with him. To get a better life, Malin Kundang agreed. he asked for permission and eventually left his mother
              Many years later, Malin Kundang became wealthy. He had a huge ship and crew assisted. Perfectly he had a beautiful wife too. When he was sailing his trading journey, his ship landed on a beach near a small village. The villagers recognized him. The news ran fast in the town; “Malin Kundang has become rich and now he is here”.   
               An old woman ran to the beach to meet the new rich merchant. She was Malin Kundang’s mother. She wanted to hug him, released her sadness of being lonely after so long time. Unfortunately, when the mother came, Malin Kundang who was in front of his well dressed wife and his ship crews denied meeting that old lonely woman. At last Malin Kundang said to her "Enough, old woman! I have never had a mother like you, a dirty and ugly woman!" After that he ordered his crews to set sail. He would leave the old mother again but in that time she was full of both sadness and angriness.
               Finally, enraged, she cursed Malin Kundang that he would turn into a stone if he didn't apologize. Malin Kundang just laughed and really set sail.In the quiet sea, suddenly a thunderstorm came. His huge ship was wrecked and it was too late for Malin Kundang to apologize. It was really too late for him to avoid his curse. Suddenly, he turned into a stone.

GUNUNG PANDERMAN


              Di Kota Wisata Batu tidak hanya menyediakan wisata rekreasi, tetapi ada juga jalur wisata mendaki Gunung Panderman. Gunung ini sudah amat dikenal hingga ke Negeri Belanda. Maklum nama Panderman diambilkan dari nama orang Belanda Van Der Man yang mengagumi gunung tersebut.
              Untuk mendaki dengan berjalan cepat hingga ke puncak hanya butuh waktu sekitar dua jam. Bagi pemula mungkin antara tiga sampai empat jam. Meski banyak jalan menanjak tetapi jarak dari kaki gunung hingga ke puncak tidak terlalu jauh.
             Jika sampai ke puncak gunung, pendaki bisa menikmati indahnya pemandangan Kota Wisata Batu dan Kota Malang secara lengkap. Jika sampai puncak malam hari, akan terlihat hamparan sinar lampu kerlap kerlip nan mempesona. Dijamin bagi yang sedang berada di puncak tak ingin segera turun.
              Setiap malam minggu dan hari libur banyak sekali wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang camping di lereng-lereng gunung itu. Mereka membawa tenda-tenda kecil untuk pelindung saat tidur.
              Untuk naik gunung ini dari Kota Malang bisa naik bus lalu minta diturunkan di pertigaan Desa Pesanggrahan. Lalu berjalan kira-kira dua kilometer ke arah barat, dari sana suasana pegunungan mulai terasa.
             Kawasan pertama yang akan dilalui jika ingin mendaki adalah kawasan Latar Ombo. Di sini biasa digunakan untuk berkemah sejumlah pendaki. Di sini juga ada sumber air yang jernih yang bisa dipakai cuci muka, mandi kalau mau, dan area di sekitarnya, bisa digunakan untuk memasak bagi pendaki yang akan meneruskan perjalanan naik atau turun. Di pos ini suasananya semakin indah. Gemericik air gunung yang jernih mampu menenangkan hati yang gundah. Sementara, dari situ juga bisa melihat kerlap kerlip sebagian lampu di Kota Wisata Batu. Suara alamnya mampu menggeser bisikan-bisikan setan yang membuat hati gelisah.
             Setelah Latar Ombo, ada pos kedua yang bisa dijadikan istirahat sejenak. Pos itu namanya Watu Gede. Di kawasan ini ada batu besar, dari sini pula bisa menikmati pemandangan di bawah dengan cukup lengkap. Meski belum sampai puncak, pos ini sangat menakjubkan.
             Bagi pendaki yang ingin membawa oleh-oleh bunga Edelweis, bisa mencari di beberapa semak dan lereng. Meski saat ini semakin jarang, bagi yang beruntung masih mungkin mendapatkan bunga keabadian tersebut.

ini adalah pemandangan ketika kita telah sampai di puncak panderman:






Peta Kediri